Tata Cara Penguburan Plasenta Bayi yang Meninggal dalam Islam

Biasanya setelah bayi dilahirkan, plasenta atau ari-ari dipotong, untuk kemudian dikuburkan.

Mutia Nugraheni
| 30 Juli 2017 08:22

Dream - Plasenta merupakan organ yang menyalurkan nutrisi, darah dan oksigen dari ibu ke janin. Termasuk menangkal infeksi serta membuat bayi bisa beradaptasi dengan suhu sesuai kebutuhannya.

Biasanya setelah bayi dilahirkan, plasenta atau ari-ari dipotong, untuk kemudian dikuburkan. Tapi bagaimana jika bayi terlanjur meninggal dalam kandungan atau meninggal setelah dilahirkan dengan kondisi plasenta belum terpotong?

Ari-ari bayi, seperti dikutip dari NU.or.id, sejatinya adalah bagian dari organ manusia meskipun dipotong lalu dibuang saat bayi dilahirkan. Sebab, plasenta diputus bukan karena datang dari luar (bukan bagian dari organ manusia) melainkan karena sudah tak dibutuhkan lagi perannya.

Karena bagian dari tubuh manusia maka dari sudut pandang fiqih, plasenta sesungguhnya suci dan cara diperlakukannya sebagaimana tubuh manusia lainnya, termasuk saat menjadi mayat.
Dalam pembahasan Muktamar Nahdlatul Ulama ke-3 di Surabaya pada 28 September 1928, muktamirin berpendapat bahwa plasenta tidak perlu dipotong bahkan harus dirawat bersama-sama jenazah si bayi karena berstatus hukum suci.

Kesimpulan ini dilandaskan pada pendapat dalam Hasyiyah al-Syirwani:

 Pendapat Abdul Hamid al-Syirwani


“ Bagian yang terpisah seperti ari-ari yang terdapat pada bayi, jika berasal dari manusia hukumnya suci, sedangkan dari selain manusia hukumnya najis. Adapun bagian yang terpisah setelah kematiannya, maka hukumnya seperti jenazahnya tanpa ada perbedaan pendapat. (Abdul Hamid al-Syirwani, Hasyiyah al-Syirwani ‘ala Tuhfah al-Muhtaj [Beirut: Dar al-Fikr, 1418H/1997 M], Cet. I, Jilid I, h. 318).

Selengkapnya baca di sini

 

Topik Terkait :

Streaming Catat! Ini Cara Menyimpan Uang Rp75 Ribu Agar Tak Mudah Rusak

Jangan Lewatkan