Risiko Depresi Menghantui Ibu Pasca Melahirkan, Harus Bagaimana?

Efek depresi bisa sangat mengerikan dan jangka panjang.

Mutia Nugraheni
| 14 Februari 2019 14:09

Dream - Kehamilan membuat kehidupan seorang perempuan berubah drastis. Sederet persiapan harus dilakukan sebelum bayi lahir, belum lagi menyiapkan fisik dan mental. Perubahan hormon pun terjadi secara cepat.

Akumulasi hal tersebut membuat ibu hamil dan setelah melahirkan rentan mengalami depresi. Menurut laporan New York Times, satu dari tujuh wanita mengalami depresi selama atau setelah melahirkan.

Demi mencegah hal tersebut, United States Preventive Services Task Force merekomendasikan para calon ibu untuk melakukan konseling saat kehamilan. Bukan hanya berkonsultasi dengan dokter kandungan tetapi juga psikolog atau mereka yang berkompeten.

Mengikuti support group atau 'kelas' untuk orangtua baru. Konseling diketahui bisa menurunkan risiko depresi secara signifikan dan bisa mendeteksi level risiko depresi parah yang mungkin dialami ibu.

" Kita harus melakukan sesuatu bagi para ibu sebelum mereka mengalami depresi," ujar Karina Davidson, salah satu anggota United States Preventive Services Task Force, seperti dikutip dari Cafemom.

Menurut data World Health Organization (WHO), 10 persen hingga 13 persen ibu di seluruh dunia mengalami masalah mental dan depresi. Pada banyak kasus, kondisi tersebut bisa memicu bunuh diri, penelantaran dan kekerasan pada anak, hingga menghambat tumbuh kembang baik fisik dan mentalnya.

Jadi, jangan segan untuk melakukan konseling sebelum melahirkan. Berbagi kekhawatiran menghadapi perubahan hidup serta tanggung jawab besar, akan sangat membantu ibu menurunkan risiko depresi.

Roger Danuarta Ogah Lihat Cut Meyriska Tampil Modis

Jangan Lewatkan