Remaja Berisiko Tinggi Terkena Penyakit Seksual, Ketahui Faktanya

Sebanyak 52,5 persen penderita HIV/ infeksi menular seksual (IMS) berusia di bawah 30 tahun.

Cynthia Amanda Male
| 22 November 2019 18:03

Dream - Pendidikan kesehatan seksual merupakan hal yang sangat krusial. Efeknya akan berdampak jangka panjang.

Sementara, masih banyak orangtua yang beranggapan kalau membahas seputar pendidikan seksual adalah tabu. Padahal pendidikan seksual sangat penting sebagai 'benteng' bagi anak agar terhindar dari perilaku seksual berisiko.

Sederet data menunjukkan kalau remaja sangat berisiko tinggi terkena penyakit menular seksual. Menurut survei Kementerian Kesehatan, sebanyak 52,5 persen penderita HIV/ infeksi menular seksual (IMS) berusia di bawah 30 tahun.

Lalu dari data Komnas Perlindungan Anak dan Lembaga Perlindungan Anak di 12 provinsi pada 2007, sebanyak 62,7 persen anak SMP mengaku telah berhubungan seksual. Angka tersebut cenderung meningkat.

" Dari 43 ribu angka yang terinfeksi HIV, setengahnya adalah anak muda. Jadi harus stop dari sekarang untuk tidak melakukan kontak seksual yang berisiko bisa terkena HIV/AIDS," ujar ujar Hanny Nilasari, dokter spesialis kulit dan kelamin dalam acara peringatan Hari AIDS Sedunia oleh Durex di kawasan SCBD, Jakarta Pusat, beberapa waktu lalu.

Selain HIV/AIDS, seks bebas juga menyebabkan gonore, sifilis, herpes serta kandidiasis. Untuk menghindarinya, dibutuhkan peran aktif orangtua sebagai guru utama anak-anak, yaitu memberikan pengetahuan seputar pendidikan sekssual.

Dimulai sejak anak balita dengan melatih anak membersihkan organ intimnya. Lalu saat anak remaja ketika pubertas, memberi penjelasan bahwa tubuh mereka akan berubah. Buka diskusi yang cair soal pendidikan seksual, bisa mulai memberikannya buku atau tayangan soal pendidikan seksual remaja dengan bahasa yang ringan.

Selanjutnya :

Bolehkah Orangtua 'Memata-matai' Medsos Anak Remajanya?

Ria Irawan Larang Rano Karno Jenguk Dirinya, Kenapa?

Jangan Lewatkan