Menurut Fikih, Ayah atau Ibu yang Paling Berhak Menamai Anak?

Nama dari orangtua bisa dikatakan merupakan untaian doa dan pengharapan

Mutia Nugraheni
| 24 Januari 2017 14:00

Dream - Memiliki anak pastinya jadi dambaan para orangtua. Limpahan doa serta rasa syukur terus dipanjatkan ketika istri berhasil hamil. Sederet persiapan pun dilakukan untuk menyambut kelahiran anak, termasuk nama.

Nama dari orangtua bisa dikatakan merupakan untaian doa dan pengharapan. Tak heran kalau ayah dan ibu berusaha memberi nama sebaik-baiknya dan seindah-indahnya untuk anak mereka. Dalam proses pemberian nama anak ini, tak dipungkiri sering muncul perdebatan antara suami istri.

Apalagi jika kakek dan neneknya juga terlibat. Mereka kadang juga ingin ikut memberi nama cucu-cucu kesayangannya. Lalu siapakah yang paling berhak memberi nama anak? Dari banyak kajian kitab-kitab fikih, ayahlah yang paling berhak memberikan nama kepada anaknya.

Sang ibu pun tak berhak menentang. Jika misalnya keduanya bertentangan, hak memberi nama tetap milik sang ayah. Syaikh Hafizh ALi Syuaisyi' dalam bukunya " Kado Pernikahan" mengingatkan salah satu riwayat terkait hal ini.

" Pada hari kiamat, manusia akan dipanggil dengan nama ayah mereka, 'Hai fulan bin fulan'. Sebagaimana yang ditetapkan oleh sebuah riwayat yang bersumber dari Ibnu Umar dari Nabi, beliau bersabda 'Pada hari kiamat nanti, bendera yang berkhianat akan dikibarkan. Lalu dikatakan, 'Inilah fulan bin fulan'."


Sumber: Buku " Kado Pernikahan" oleh Syaikh Hafizh ALi Syuaisyi'

 

Video Polisi Tes Kandungan Sabu Cair dalam Mainan Anak-anak

Jangan Lewatkan