Menguak Filosofi Ritual Adat Menyambut Bayi di Indonesia

Untaian doa terbaik dan pengharapan pun diucapkan, bahkan jauh sebelum si bayi lahir. Setelah lahir, jabang bayi pun menjalani ritual penuh makna.

Mutia Nugraheni
| 14 Oktober 2017 17:42

Dream - Kelahiran bayi ke dunia memang terjadi setiap harinya, bahkan setiap menit dan detik. Namun peristiwa ini tak kehilangan kesakralannya. Perjuangan ibu, penantian ayah dan kegembiraan seluruh keluarga menyambut bayi selalu jadi momen istimewa.

Untaian doa terbaik dan pengharapan pun diucapkan, bahkan jauh sebelum si bayi lahir. Setelah lahir, jabang bayi pun menjalani ritual penuh makna. Tak lain tak bukan demi mengharapkan berkah dari Sang Pencipta.

Pada beberapa daerah di Indonesia, ada upacara adat atau ritual tersendiri saat menyambut bayi ke dunia, juga ketika si bayi mencapai usia tertentu. Seperti dikutip dari
KebudayaanIndonesia.com, ketahui makna dan filosofi upacara adat dan ritual yang dijalani bayi di berbagai daerah di Indonesia.

- Banjar, Kalimantan Selatan

 Baayun Mulud

Ada juga ritual penuh makna menyambut kelahiran bayi di Banjar, Kalimantan Selatan, yaitu Baayun Mulud. Baayun berarti berayun dan Mulud dari kata Maulid atau kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Ritual ini dilakukan untuk bayi usia 0-5 tahun dan diadakan setiap maulid Nabi Muhammad SAW. Maksud dilakukan upacara ini adalah bayi tersebut diharapkan kelak menjadi pengikut
setia Nabi Muhammad SAW dan senantiasa menjaga nilai-nilai Islam dalam kehidupannya. Tumbuh menjadi anak yang soleh dan soleha serta mencintai Sang Nabi.

- Jawa

 Tedak Siten Arsy

Setelah lahir, ari-ari bayi dibawa pulang ke rumah dan dikuburkan secara layak. Dibuat lubang khusus, hingga ditaruh berbagai bunga dan wewangian serta penerangan. Ritual ini bernama
Brokohan. Lalu saat usia bayi 5 hari, diadakan pengajian dan upacara adat Sepasaran.

Ritual ini juga membagikan jajan pasar kepada kerabat dan tetangga. Makna filosofisnya, si bayi kelak diharapkan menjadi insan yang ingat akan akhirat, membawa keberkahan dan kebahagiaan bagi orang di sekelilingnya.

Memasuki usia 7 bulan, si bayi akan menjalani ritual Tedak Sinten atau Turun Tanah. Filosofinya sebagai rasa syukur kepada Allah SWT akan kehidupan yang sehat pada si bayi. Dalam usia
tersebut bayi juga mulai belajar menapakkan kaki ke tanah. Ritual Tedak Siten dimaksudkan menyiapkan anak memijak bumi dengan bijak dengan tuntunan orangtua.

- Bali

 Jatakarma Samskara

Jatakarma Samskara merupakan upacara kelahiran bayi yang dilakukan masyarakat Hindu Bali. Sekumpulan doa dipanjatkan agar bayi kelak tumbuh menjadi manusia yang baik dan mendapatkan karma baik di masa depan. Prosesinya adalah dengan melibat sang ayah yang menggendong bayinya.

Ayah diharuskan mencium dan menyentuh bayinya sambil membacakan doa di dekat telinga bayi yang baru lahir. Saat proses kegiatan upacara Jatakarma berjalan, usahakan tali pusar bayi belum terputus.

Jika tali pusar terlanjur lepas, maka dibuat suatu upakara untuk mensucikan bangunan-bangunan ibadah yang ada di wilayah sekitar. Sebagai bentuk rasa syukur, biasanya dalam upacara ini disajikan nasi tumpeng dengan lauk pauk yang disebut rerasmen, buah-buahan.

- Palu, Sulawesi

 Ritual adat dipimpin Tetua di Sulawesi

Ritual Moana sampai saat ini masih dilangsungkan masyarakat Palu di Sulawesi. Terdiri dari dua prosesi pemotongan plasenta atau yang biasa disebut dengan upacara pemotongan Tumbuni dalam bahasa Sulawesi. Kemudian dilanjutkan dengan perawatan placenta, bayi naik ayunan hingga bayi mulai menginjak tanah.

Sesudah bayi lahir, seorang Topopanuju atau dukun bayi menaikkan bayi tersebut pada ayunan yang sudah disediakan atau biasa juga disebut dengan umbu. Bayi yang diikutsertakan dalam
upacara adat ini biasanya berusia tiga sampai tujuh hari. Filosofi ritual ini adalah mendekatkan bayi pada Sang Pencipta dan meminta keberkahan pada Penguasa Semesta agar si bayi kelak menjadi anak yang beruntung.

Topik Terkait :

Lesti Kejora - Rizky Billar Part 2 | Christie SERIBU KALI CINTA THE SERIES Eps 10

Jangan Lewatkan