Kunci Penting Melatih Buah Hati Mengontrol Emosi

Sikap orangtua akan sangat berpengaruh pada kemampuan anak mengelola emosinya.

Mutia Nugraheni
| 6 Juni 2018 12:03

Dream - Anak-anak terutama balita, bisa mengamuk kapan saja saat keinginannya tak terpenuhi. Ketika berada di situasi yang tak nyaman, emosinya bisa langsung meninggi. Menangis, berteriak, bahkan hingga berguling-guling.

Penting bagi orangtua memahami alasan kemarahan dan bagaimana kencenderungan emosi anak. Hal ini akan menjadi 'modal' Anda untuk membantu menenangkannya. Sikap orangtua juga akan sangat berpengaruh pada kemampuan anak mengelola emosinya.

Sebagai langkah awal, lihat dulu kebiasaan ayah dan ibu di rumah dalam hal menyampaikan emosi. Jika anak terbiasa melihat orangtuanya menyampaikan emosi dengan 'sehat' maka ia cenderung akan menirunya.

" Apabila anak terbiasa mendengar teriakan, dan ekspresi emosi tak terkendali, maka ia bisa saja melakukannya saat sedang marah. Jadi, penting bagi orangtua untuk merefleksi diri dan menjadi teladan," ujar Allan Smith, seorang psikolog keluarga.

Saat kondisi emosi anak sedang meninggi memang sulit mengontrol emosi sendiri. Orangtua biasanya terpancing. Tapi usahakan untuk berpikir panjang dan membuat situasi jadi lebih tenang, dan bukan bertambah panas.

" Ajarkan buah hati mengontrol napasnya saat emosi, menarik napas panjang lewat hidung lalu buang pelan lewat mulut. Bisa juga orangtua melakukannya bersama si kecil. Hal ini sebagai langkah awal dan paling mudah untuk mengurangi level emosi yang meninggi," kata Smith.

Ungkapkan juga pada anak, perasaan marah dan emosi yang dirasakannya merupakan hal wajar. Namun ia harus mengekspresikannya dengan cara yang sehat dan tak menyakiti orang lain.

" Biasakan anak membicarakan apa yang dirasakannya, misalnya: adik sedih mainan diambil kakak, kakak kesal karena tak boleh main HP. Bukan dengan berteriak dan mengamuk. Jika anak sudah mengungkapkan perasaan, cobalah untuk memberi penjelasan," ungkap Smith.

Tnda yang sangat baik bagi perkembangan emosi anak, ketika ia sudah bisa menjelaskan apa yang dirasakannya. Tugas orangtua adalah memastikan ekspresi emosi anak tak menyakiti dirinya dan orang lain.

Sumber: Life as Mama

Topik Terkait :

(Deep Dream) Menteri PAN-RB Buka-bukaan Soal PNS Kerja dari Rumah dan Single Salary

Jangan Lewatkan