Koreksi Perilaku Buruk Anak, Bukan Emosinya

Kuncinya adalah mengetahui perbedaan emosi dan perilaku.

Mutia
| 8 Januari 2018 19:24

Dream - Anak-anak bisa jadi sosok yang sangat penuh 'drama' dan dilingkupi level emosi yang tinggi karena dorongan naluri. Emosinya mendadak berubah menjadi tidak terkendali.

Menghadapi hal ini, ayah bunda mungkin sering merasa kewalahan. Dalam kondisi ini yang terjadi pada orangtua biasanya juga terpancing emosi. Akibatnya yang muncul reaksi yang tak seharusnya.

Orangtua bukan mengoreksi perilaku anak yang buruk tapi malah mencari cara untuk meredam atau menutup emosinya. Ada perbedaan mendasar antara emosi dan perilaku. Koreksi anak Anda apabila mereka berbuat salah. Pada waktu yang bersamaan, biarkan mereka mengenal berbagai macam emosi.

Mungkin cara ini bisa Sahabat Dream terapkan saat menghadapi buah hati. Terutama ketika emosi dan perilaku mereka sedang tak stabil.

1. Jangan abaikan ungkapan emosinya
Anak kecil yang terbiasa dilarang untuk menangis cenderung tumbuh menjadi pribadi yang menghindari rasa duka. Padahal duka merupakan tahap dari proses penyembuhan. Sama halnya dengan marah.

Tanpa merasa marah, mereka tidak akan bisa mengutarakan perasaannya. Hindari penggunaan kalimat seperti di bawah ini.
- Jangan marah hanya karena hal sepele!
- Berhenti menangis!
- Jangan seperti bayi!
- Nanti Mama/Papa belikan, tapi jangan menangis lagi!

2. Pisahkan emosi dengan perilaku
Temukan perbedaan antara apa yang dirasakan oleh si kecil dengan apa yang ia lakukan. Marah adalah perasaan, namun memukul merupakan perilaku. Sementara sedih adalah perasaan,
dan merengek adalah perilaku. Ajari mereka untuk menghadapi emosi tanpa melibatkan perilaku buruk. Cara seperti menarik napas panjang untuk mengontrol amarah bisa menjadi pilihan yang tepat.

3. Hadapi zona tidak nyaman
Mendidik anak bermental kuat bukan berarti anak tersebut harus minim akan emosi. Anak dengan mental yang kuat mampu memahami emosi yang mereka rasakan. Ajari anak Anda untuk mengatasi perasaan yang membuatnya tidak nyaman, seperti rasa cemas dan minder. Biasakan untuk melakukan sesi tanya jawab untuk membicarakan segala hal yang dialaminya.

4. Mengatur emosi
Ajarkan mereka agar dapat mengenal berbagai jenis emosi. Berikan mereka aktivitas untuk mencurahkan emosinya, seperti menggambar atau berolahraga. Ketika ia melanggar peraturan,
katakan padanya bahwa ia tidak akan dihukum, melainkan bertanggung jawab atas perbuatannya. Anda sebaiknya terus berada di sampingnya ketika ia sedang mengatasi masalahnya.

Laporan Annisa Mutiara

Sumber: Verywell

Topik Terkait :

#KapanLagiKepo - Idolai Aditya Roy Kapur, Lesti Malu-Malu

Jangan Lewatkan