Kak Seto: Anak Bukan Teroris Tapi Korban

Anak merupakan korban bujuk rayu, pemaksaan atau intimidasi.

Mutia
| 15 Mei 2018 19:31

Dream – Kasus pemboman gereja dan Mapolres Surabaya beberapa hari lalu sangat menyita perhatian publik. Bukan hanya menimbulkan suasana mencekam tapi si pelaku juga melibatkan anak-anaknya sendiri dalam melakukan aksi peledakan.

Anak-anak mereka ada yang langsung meregang nyawa namun ada juga yang selamat. Seto Mulyadi, seorang psikolog yang juga pendiri Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) menegaskan untuk tidak menyebut anak-anak para pelaku pemboman sebagai teroris.

" Jangan ada kata-kata bahwa anak adalah pelaku teroris. Mereka bukanlah pelaku, melainkan korban," ujarnya saat ditemui Gedung Kementerian Kesehatan RI, Jakarta, 15 Mei 2018.

Lelaki yang akrab dipanggil Kak Seto ini mengungkapkan bahwa anak merupakan korban bujuk rayu, pemaksaan atau intimidasi. Mereka kerap diberikan doktrinasi, baik positif maupun negatif.

“ Jika positif, maka anak akan mengerjakan hal-hal mulia. Begitu juga sebaliknya jika negatif, mereka bisa melakukan tindak kejahatan. Mereka dijadikan korban terorisme karena dianggap sebagai yang paling mudah untuk masuk,” ujar Kak Seto.

Oleh sebab itu, menurutnya untuk membesarkan, mengasuh dan melindungi anak, bukan hanya dibutuhkan keterlibatan orangtua. Tapi diperlukan perhatian dari orang sekitar dan lingkungan yang aman. Diawali dari sekitar rumah mulai dari RW dan RT

“ Rukun Warga tapi kok warganya nggak rukun. Rukun Tetangga tapi kok tetangganya nggak peduli satu sama lain. Ini perlu kewaspadaan bersama, serta tindakan nyata jangan sampai orang sekitar nggak mau tahu," ungkap Kak Seto.

Untuk di lingkungan rumah, Kak Seto mengajak masyarakat untuk lebih peduli dan berkomunikasi dengan tetangga. Apabila ada keluarga yang orangtuanya melakukan gerak-gerik mencurigakan dan melakukan doktrin kepada anak, bisa melapor ke kepolisian.

" Jika selama ini pencegahan masih kurang, maka sekarang harus lebih ditingkatkan agar tidak ada korban anak-anak dan kekerasan lainnya," ujarnya.

Kak Seto bercerita kalau dirinya dan tim dari LPAI akan pergi ke Surabaya untuk menemui anak-anak para pelaku pemboman. Ia akan memberikan terapi khusus.

“ Saya akan melakukan terapi di sana. Anak tidak boleh dibiarkan begitu saja, tidak boleh dibiarkan, dan harus dilindungi," ungkapnya.

Laporan Dina Nazhifah

Topik Terkait :

Melihat Rumah Adat Suku Asli Halmahera Barat

Jangan Lewatkan