Kajian Islam dalam Budaya Selamatan Saat Hamil

Saat hamil, selamatan biasanya dilakukan saat usia 4 bulan dan 7 bulan.

Mutia
| 14 September 2018 12:10

Dream - Budaya selamatan tak bisa dilepaskan dari masyarakat Indonesia. Biasanya dilakukan di momen-momen penting dalam kehidupan, seperti ketika menjalani kehamilan. Selamatan ini juga bentuknya berupa pengajian, berdoa bersama dan juga ritual budaya yang penuh makna filosofis.

Saat hamil, selamatan biasanya dilakukan saat usia 4 bulan dan 7 bulan. Ada sebagian orang yang mempertanyakan keabsahan pelaksanaan acara selamatan tersebut. Adakah dalil dan anjuran di dalam agama Islam tentang itu? Adakah Rasulullah pernah memerintahkan atau mencontohkan hal itu?

Dikutip dari NU Online, memang tidak ada perintah secara langsung dalam sumber hukum Islam mana pun. Namun bila kita mau mempelajari dengan baik kita bisa menemukan dalil-dalil yang secara substansi bisa menjadi dasar keabsahan melakukan acara selamatan semacam itu.

Dalam sebuah hadits riwayat Imam Muslim yang juga disebutkan bahwa Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallama bersabda:

“ Sesungguhnya setiap orang di antara kalian dikumpulkan penciptaannya di dalam perut ibunya selama empat puluh hari (berupa sperma), kemudian menjadi segumpal darah dalam waktu empat puluh hari pula, kemudian menjadi segumpal daging dalam waktu empat puluh hari juga. Kemudian diutuslah seorang malaikat meniupkan ruh ke dalamnya dan diperintahkan untuk menuliskan empat hal; rejekinya, ajalnya, amalnya, dan apakah dia menjadi orang yang celaka atau bahagia.” (Muslim bin Hajjaj An-Naisaburi, Shahîh Muslim, Kairo: Darul Ghad Al-Jadid, 2008, jil. VIII, juz 16, hal. 165).

Pada fase yang demikian ini, berdasarkan hadits di atas, para ulama Nusantara mengajari kita sebagai umatnya untuk memanjatkan doa kepada Allah SWT agar janin yang ada di kandungan diberi ruh yang baik dan juga rupa tubuh yang sempurna tak kurang suatu apa sebagaimana layaknya tubuh seorang manusia normal pada umumnya. Juga memohon kepada Allah agar sang janin diberi takdir-takdir yang baik pula.

Untuk memanjatkan permohonan-permohonan baik bagi sang janin itu para ulama negeri ini juga menganjurkan untuk meminta bantuan para tetangga dan sanak saudara untuk ikut serta mendoakannya. Maka diundanglah mereka ke rumah pada waktu yang ditentukan guna bersama-sama berdoa kepada Allah.

Selengkapnya baca di sini.

Topik Terkait :

Bertemu PM Jepang, Indonesia Berminat Kembangkan Mobil Listrik

Jangan Lewatkan