Intip Upacara Tujuh Bulanan GKR Hayu di Kraton Yogyakarta

Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hayu, putri keempat Sri Sultan Hamengkubuwono X, saat ini sedang hamil anak pertamanya.

Mutia Nugraheni
| 19 Juni 2019 14:06

Tak Boleh Dikipas

Untuk menjaga suhu air, ceret tersebut tetap dipanaskan di atas bara namun tidak dikipasi agar asap tidak masuk dan mengakibatkan air minum berbau sangit. Pada Ngabekten, teh untuk Sultan akan diseduh di teko khusus berwarna merah muda dengan gambar menara.

Teh tersebut disajikan dalam nampan perak, termasuk satu set teko dari perak dengan motif bunga, set cangkir keramik warna merah muda dengan gambar wajah Sri Sultan Hamengku Buwono VII, dan sendok emas.

      View this post on Instagram

A post shared by Kraton Jogja (@kratonjogja) on Jun 1, 2019 at 9:49pm PDT

Dalam teko-teko perak bermotif bunga tersebut disediakan air teh, susu, air putih, dan juga gula.

Penyajian minuman dan perlengkapan yang kaya ragam ini merupakan salah satu esensi baku dari sebuah upacara Kraton Yogyakarta.

Di sisi lain, tradisi minum teh menjadi sarana identifikasi dan pengamanan bagi kerabat, abdi dalem tertentu, ataupun tamu undangan, yang dikenali dari alat minum yang digunakan.(Sah)

BERANI BERUBAH: Takjil Drive Thru Masjid Al Azhar

Jangan Lewatkan