Ibu Rentan Alami Gangguan Jiwa Setelah Bersalin, Alasannya...

Penting bagi orang-orang di sekeliling ibu, baik suami mau pun kerabat dekat untuk mengenali gejala depresi pada ibu setelah melahirkan.

Gladys Velonia
| 7 Desember 2017 15:52

Dream - Kondisi hormon yang berubah drastis saat hamil membuat ibu jadi seseorang yang 'berbeda'. Jadi lebih sensitif, lebih waspada, dan tentunya membuat perempuan jadi lebih bernaluri keibuan. Namun tak selamanya perubahan hormon ini berjalan dengan baik.

Ada kalanya perubahan hormon tak didukung dengan kondisi lingkungan yang nyaman. Kepanikan ibu tak bisa dikurangi, pasangan yang kurang perhatian, serta masalah lain yang justru membuat kejiwaan ibu hamil jadi terganggu. Apabila dibiarkan kondisi ini bisa berujung depresi parah.

Mungkin Sahabat Dream, sudah sering mendengar istilah baby blues atau depresi pasca melahirkan. Ternyata menurut Vera Itabiliana, seorang psikolog, kondisi tersebut 80% dialami ibu setelah melahirkan.

Level depresi tersebut ada yang ringan namun ada juga yang cukup parah. Perubahan fisik, hormon, rutinitas secara drastis tentu akan membuat emosi ibu tidak stabil. Apalagi setelah
melahirkan saat harus mengurus bayi sementara level emosi sedang tak dalam kondisi yang baik.

" Gangguan kejiwaan yang biasa dialami ibu pasca melahirkan ada tiga, pertama baby blues yang paling ringan. Kedua postpartum depression, atau depresi yang bisa menimbulkan
keinginan buat bunuh diri. Ketiga postpartum psikosis, yang paling berbahaya," ujar Vera saat ditemui di SCBD, Jakarta Selatan.

Ada perbedaan postpartum depression dengan postpartum psikosis. Menurut Vera perbedaannya terletak pada munculnya keinginan pada ibu untuk menyakiti dirinya sendiri.

" Mau bunuh diri kan merugikan diri sendiri. Kalau psikosis, ibu cenderung ingin menyakiti dirinya dan anaknya, makanya bahaya," ungkap Vera

Penting bagi orang-orang di sekeliling ibu, baik suami mau pun kerabat dekat untuk mengenali gejala depresi pada ibu setelah melahirkan. Jangan segan untuk membantunya dengan
memberi pelukan dan dukungan. Jika memang tak mereda, konsultasi dengan psikolog adalah solusi terbaik.

" Kalau baby blues itu cirinya adalah emosi naik turun, gampang tersinggung, menangis terus. Tapi jangka waktunya cuma bentar kurang lebih 2 minggu sampai 1 bulan sesudah melahirkan,"
jelas Vera.

Sementara pada kondisi depresi, jangka waktunya bisa mencapai satu tahun setelah persalinan. Gejala utamanya adalah rasa cemas berlebihan dan tidak bisa tidur.

" Untuk psikosis, probabilitasnya memang kecil, dari 1.000 ibu yang melahirkan cuma 1 atau 2 perempuan yang mengalaminya. Namun bahaya seperti kasus beberapa waktu lalu tentang ibu
mutilasi anaknya sendiri. Itu dilakukan secara tidak sadar, dia berhalusinasi, hingga akhirnya pas sadar baru menyesal," kata Vera.

Faktor utama yang membuat ibu pasca melahirkan rentan mengalami depresi adalah kelelahan. Baik kelelahan fisik karena mengurus bayi juga kelelahan psikis karena kurang tidur, harus
berada di rumah dan aktivitas terbatas. Untuk itu Vera menyarankan agar suami dan keluarga berperan aktif untuk mendampingi dan membantu ibu.

Topik Terkait :

The Sacred Riana Jawara Asias Got Talent Season 2

Jangan Lewatkan