Generasi 'Alfa Baby' Paling Berisiko Kecanduan Gadget

Sebisa mungkin generasi alfa baby ini harus lebih banyak bermain dan berinteraksi langsung dengan orangtua.

Mutia Nugraheni
| 16 Februari 2018 17:32

Dream - Seringkali kita mendengar sebutan generasi millenial dan baby boomers. Namun, tahukah Sahabat Dream kalau ada juga yang disebut dengan generasi alfa baby?

Generasi alfa baby adalah generasi yang lahir setelah tahun 2010. Disebut alfa karena mereka sangat dekat dengan gadget. Rupanya hal ini memberikan dampak positif dan juga negatif bagi tumbuh kembang si kecil.

" Mereka lebih addicted dengan gadget, positifnya lebih cepat ngulik gadget. Tapi negatifnya mereka cepat bosan, karena gadget hanya memberikan one way communication, tidak ada two way communication dari orangtua dan sekitarnya," tutur Noella Birowo, penulis Buku Anti Panik, di konferensi pers ELC (Early Learning Centre), di Jakarta Pusat, Kamis 15 Februari 2018.

Selain itu, dampak negatif lainnya ialah anak kesulitan berkomunikasi dan bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya. Karena itulah, ada baiknya jika alfa baby ini dibatasi interaksinya dengan gadget.

" Mereka harus punya good attachment dan trust pada orangtua. Kita tidak bisa nunggu nanti anak sudah SD baru diajak ngobrol. Baiknya mulai dari nol, dibantu dengan bermain. Ajaklah anak Anda bermain sedini mungkin," ujar penulis yang akrab disapa Ui ini.

Konsep tumbuh kembang anak melalui permainan menjadi solusi komunikasi yang efektif bagi orangtua. Bukan hanya untuk mengajarkan anak bersosialisasi, tetapi juga merangsang pengembangan panca inderanya.

Sadar pentingnya mainan bagi anak, ELC meluncurkan seri mainan Little Senses. Mainan tersebut bisa merangsang anak untuk fokus, menggerakan sensor motorik, melatih daya ingat, serta mengenalkan anak pada konsep-konsep dasar seperti mengenal suara, nada, nama benda, bentuk, dan warna.

" Untuk anak 18 bulan sampai 3 tahun baiknya diberi mainan pengenalan bentuk, misalnya mobil-mobilan. Remote control untuk anak 3 tahun ke atas karena dia butuh media lain untuk menjalankan mainannya, yaitu si remote itu sendiri. Konsep itu baru bisa dipahami saat usia 3 tahun. Makin besar umur si kecil, permainannya harus yang makin kompleks," tegas Bayu Wijanarko, Toy Expert dari ELC.

Topik Terkait :

Jokowi Resmi Lantik Pengisi Dua Kementerian Baru dan Kepala BRIN

Jangan Lewatkan