Bernegosiasi dengan Anak, Perlukah?

Ada saat ketika Anda sebaiknya melakukan negosiasi, namun ada juga saatnya harus tegas dengan aturan dan prinsip.

Mutia Nugraheni
| 25 Juli 2017 18:06

Dream - Rengekan, menangis, atau 'menawar' dengan aturan yang diterapkan, kerap dilakukan anak. Anak-anak memang sangat pintar dalam hal meluluhkan hati orangtuanya. Aturan yang awalnya ingin dilakukan orangtua pun akhirnya menjadi sebuah negosiasi.

Lalu haruskah sebagai orangtua kita bernegosiasi dengan anak? Jawabannya, sangat tergantung dari situasi. Beberapa ahli pengasuhan anak ada yang berpikir bahwa bernegosiasi dengan anak justru bisa mengajarkan bahwa mereka dapat lolos dari konsekuensi perbuatannya.

Ada juga yang berpendapat negosiasi justru mengajarkan anak keterampilan hidup dengan berpikir kritis dan menyampaikan argumen. Ada saat ketika Anda sebaiknya melakukan negosiasi, namun ada juga saatnya harus tegas dengan aturan dan prinsip. Ketahui perbedaan keduanya.

Tak perlu bernegosiasi
Bila Anda membuat peraturan, jadwal dan tugas untuk anak-anak, maka ada target waktu dan kedisiplinan. Misalnya, jadwal bangun pagi, tidur malam, nonton televisi dan bermain di luar
rumah di jam-jam tertentu. Ini mengajarkan perilaku bertanggung jawab dan membentuk rutinitas. Bila anak melakukan penawaran dan mengajak bernegosiasi maka akan berdampak pada rutinitasnya.

Misalnya saat ia tidur sangat larut karena main atau menonton, esoknya bangun kesiangan, PR juga belum dikerjakan dan hal-hal lain yang berdampak domino. Jadi soal aturan rutinitas
sebaiknya jangan bernegosiasi. Anak nantinya malah bisa melakukan negosiasi lanjutan.

Bisa bernegosiasi
Ada kalanya pendapat anak-anak sangat dibutuhkan terutama soal kesukaan dan pendidikan mereka. Bisa dengan menanyakan pendapat atau dimulai dengan pertanyaan 'suka atau tidak?
Saat memilih sekolah misalnya, mungkin keputusan terbesar berada di tangan orangtua, tapi pendapat anak harus didengar, karena mereka yang akan bersekolah setiap harinya.

Jangan sampai anak tak suka sekolah, ekstrakurikuler atau les yang dijalaninya dan hanya membuat mereka jenuh serta kelelahan. Bukankah pendidikan yang dijalani anak memang untuk dirinya dan bukan menyenangkan orangtua? Jadi pastikan pendapatnya juga didengar. Jika ia menyampaikan argumentasi yang baik, pertimbangkan dan bicarakanlah secara detail.

Untuk itu pintar-pintarlah membaca situasi. Lakukan keseimbangan. Kunci dalam membuat negosiasi adalah bukan untuk menghentikan tangisan atau rengekan. Tapi negosiasi bisa
dilakukan saat dia membuat argumen yang logis.

Sumber: Verywell

 

Topik Terkait :

Intip Harga dan Spesifikasi Mobil Dinas Baru Jajaran Menteri Jokowi

Jangan Lewatkan