Bentuk Mental Remaja Pria, Orangtua Perlu Ajarkan 2 Hal Ini

Anak lelaki yang beranjak remaja, aspek kognitif dan emosinya sedang dalam proses belajar dan pematangan.

Mutia Nugraheni
| 13 Juni 2019 14:08

Dream - Masa pra-remaja dan remaja, konflik orangtua dan anak seakan tak terhindarkan. Anak yang semula penurut, selalu mendengarkan dan patuh kini berubah drsatis. Selalu memiliki pendapat sendiri, tak mau mendengar orangtua dan selalu menyanggah.

Hal ini boleh dibilang sangat natural. Anak lelaki yang beranjak remaja, aspek kognitif dan emosinya sedang dalam proses belajar dan pematangan. Konflik dan kesalahan akan membuat mereka belajar banyak hal.

Orangtua memang harus ekstra sabar dan jangan menganggap si remaja laki-laki adalah anak-anak yang harus selalu menurut. Coba terapkan hal ini agar mental dan kepribadian terbentuk dengan baik.

1. Mereka perlu didengar
Sejak usia bayi hingga balita, anak-anak akan menurut orangtuanya. Hal ini tak akan abadi. Saat memasuki usia 13 atau 14 tahun, pastikan komunikasi tidak lagi berjalan satu arah. Anak remaja perlu didengar.

Jangan hanya menyuruh, melarang, mengkritik, tapi siapkan telinga dan dengarkan apa keinginan anak dan keluhannya. Buka diskusi dengan baik, anak akan belajar mempertahankan argumen dan juga mendengarkan orang lain.

2. Anak tak selalu jadi pusat segalanya
Selama ini orangtua selalu memprioritaskan anak dalam segala hal. Aktivitas harian, liburan, bentuk rumah, finansial dan banyak hal lain dipertimbangkan dengan anak sebagai pusatnya.

Saat anak mulai beranjak remaja, saatnya untuk membiarkan mereka belajar mandiri. Mungkin berlibur sendiri bersama tante atau sepupunya. Ajak anak juga membuat keputusan bersama yang mempertimbangkan kebutuhan orang lain dan win-win solution. Ini sangat penting agar mereka tak menjadi pribadi yang egois.

Sumber: YourModern Family

Topik Terkait :

Mengharukan, Reaksi Gempi Dengar Gading dan Gisel Tidur Bareng Lagi

Jangan Lewatkan