Anak Dijadikan Konten Prank, Psikolog: Gak Lucu Sama Sekali!

Jika dilihat dari aspek psikologis, mengerjai anak dan menjadikannya konten di media sosial berdampak buruk dan jangka panjang.

Mutia Nugraheni
| 31 Agustus 2020 12:02

Dream - Banyak orang berlomba-lomba membuat konten di media sosial, untuk mendulang like, subscribes, popularitas hingga ad sense. Salah satu konten yang kerap mencuri perhatian adalah prank atau menjahili orang lain dan mendapatkan reaksi kocak atau prank.

Rafathar, salah satu anak yang sering dijadikan konten prank. Viral di media sosial reaksi kesal dan marah Rafathar karena jadi korban prank. Mungkin ada yang menganggap konten prank hanya bercanda, dan tak bermaksud menyakiti.

Ternyata jika dilihat dari aspek psikologis, mengerjai anak dan menjadikannya konten di media sosial berdampak buruk dan jangka panjang. Novita Tandry, seorang psikolog keluarga memperingatkan orangtua untuk segera menghentikan hal tersebut.

Mengapa?

" Mereka (orangtua) lupa ada rekam jejak digital yang tidak pernah hilang selamanya hingga anak ini tumbuh dewasa apalagi di-prank dan dijadikan lelucon untuk ditertawakan oleh netizen di sosmed. Apalagi demi naiknya follower, banyaknya likes, viewers dan subscriber!," tulis Novita di akun Instagramnya.

 

Selanjutnya :

Penuh Kecemasan

Merawat Warisan [TEASER]

Jangan Lewatkan