Waspada Efek Guncangan Gempa Pada Ibu Hamil

Ibu hamil yang mengalami guncangan akibat gempa bumi disinyalir mengalami stres psikis dan trauma, ringan hingga berat.

Mutia Nugraheni
| 7 Agustus 2018 08:09

Dream - Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) pada Minggu 5 Agustus kemarin diguncang gempa yang sangat besar mencapai 7.0 Skala Richter (SR). Kondisi ini tentu saja sangat membahayakan seluruh penduduk terutama ibu hamil.

Guncangan gempa yang sangat dahsyat bisa berdampak buruk pada kesehatan ibu dan janin dalam kandungan.

Hubungan efek gempa pada ibu hamil mulai banyak diteliti setelah gempa hebat di Chile pada 2005. Kala itu gempa berkekuatan 7.8 SR memorakporandakan daerah di sekitar pusat gempa. Ada 11 orang dinyatakan meninggal dan 200 lainnya menderita luka-luka.

Beberapa bulan setelahnya, pemerintah setempat mencatat adanya peningkatan signifikan pada kelahiran bayi prematur.

Tak hanya itu, bayi- bayi yang lahir pun cenderung berbobot rendah. Setelah ditelaah, ternyata bayi- bayi prematur dan berbobot rendah tersebut terlahir dari ibu yang mengalami gempa bumi pada masa kehamilannya.

Ibu hamil yang mengalami gempa bumi disinyalir mengalami stres psikis dan trauma, ringan hingga berat. Stres dan trauma inilah yang akan menyebabkan pelepasan hormon kortikotropin atau hormon “ stres” yang berpotensi memicu gangguan kehamilan.

Gangguan tersebut kemudian dapat meningkatkan risiko kelahiran prematur dan menimbulkan masalah pada perkembangan bayi. Akibatnya, bayi yang dilahirkan memiliki berat lahir di bawah angka normal.

Akan tetapi, berbagai dampak kesehatan kehamilan ini hanya terjadi pada ibu hamil yang mengalami gempa bumi di trimester pertama. Bagi ibu yang mengalami gempa Lombok, kelahiran bayi prematur ini dapat dicegah dengan berbagai cara, seperti:

- Cari dukungan dan pertolongan untuk atasi stres
Stres yang tersisa dari bencana gempa bumi memang sulit untuk dihindari, tapi pertolongan tetap dapat dicari. Sampaikan apa yang Anda rasakan kepada kerabat terdekat dan bila perlu minta dampingan psikolog untuk membantu melewati masa-masa penuh trauma ini.

- Kontrol rutin
Pastikan ibu hamil melakukan kontrol rutin sepanjang usia kehamilan agar perkembangan janin dapat dipantau secara ketat. Deteksi dini gangguan perkembangan kehamilan merupakan kunci agar ibu dan juga sang bayi tetap sehat hingga persalinan nanti.

- Kenali tanda persalinan dini
Mengenali tanda persalinan diri seperti kontraksi hebat, pecah ketuban, dan adanya bercak darah yang keluar dari jalan lahir adalah cara untuk menjaga kehamilan tetap lancar dan sehat. Bilamana terdapat tanda-tanda tersebut, dokter dapat memberikan beberapa pengobatan untuk mempertahankan kehamilan dan menundanya hingga waktu persalinan tiba.

Sumber: dr. Dyan Mega Inderawati/ Klikdokter.com/ Liputan6.com

BERANI BERUBAH: Lepas Gengsi, Jemput Rezeki

Jangan Lewatkan