Wajib Tahu, Risiko Prosedur Induksi Persalinan

Presentase kegagalan induksi dan berujung bedah caesar sangat tinggi.

Mutia
| 8 Oktober 2018 10:12

Dream - Lahirnya buah hati jadi momen yang paling ditunggu orangtua. Ada yang menjalani tiap tahap persalinan dengan mudah, namun ada juga yang melakukan prosedur induksi.

Prosedur induksi berfungsi untuk untuk merangsang kontraksi rahim sebelum kontraksi alami terjadi dengan tujuan mempercepat proses persalinan. Sayangnya, kegagalan induksi dan berujung bedah caesar sangat tinggi.

Menurut data American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG), kegagalan tersebut mencapai level tertinggi sekitar 31 persen pada 2006. Penelitian ACOG pada 2005 menetapkan bahwa menginduksi ibu yang baru pertama kali melahirkan berkaitan langsung dengan peningkatan risiko untuk bedah caesar.

Komplikasi lain yang bisa muncul dari induksi adalah hari perkiraan lahir dan usia janin yang tidak akurat. Hal yang sama berlaku untuk memprediksi berat badan bayi. Menginduksi untuk bayi yang diduga berbobot besar juga sangat meningkatkan risiko operasi caesar.

Penting diketahui, paru-paru janin adalah salah satu organ terakhir yang berkembang. Penjadwalan induksi sebelum 39 minggu dapat menyebabkan bayi harus menjalani perawatan di neonatal intensive care unit (NICU).

Induksi juga dapat menyebabkan komplikasi medis untuk ibu dan bayi serta mengganggu persalinan. Saat pitocin (obat yang merangsang kontraksi) diberikan, kondisi ibu dan detak jantung janin harus dipantau dengan intensif.

Jika persalinan berlangsung lambat, kantung ketuban dapat dipecahkan untuk mempercepat proses. Tapi kondisi ini meningkatkan risiko infeksi ibu dan janin. Untuk itu konsultasikan dengan detail pada dokter atau bidan sebelum memutuskan induksi.

Sumber: Parents

Kronologi Roro Fitria Tak Bisa Antar Jenazah Ibunda

Jangan Lewatkan