Sederet Pemeriksaan Penting yang Dilakukan Setelah Bayi Lahir

Jika saat ini sedang mencari atau memilih RS atau klinik sebagai tempat persalinan, ayah dan ibu juga mempertanyakan fasilitas skrining.

Mutia
| 10 September 2017 08:22

Dream - Bayi baru lahir perlu dilakukan pemeriksaan ekstra atau sering diistilahkan sebagai skrining. Pemeriksaan ini untuk mengetahui kondisi awal kesehatan bayi setelah dilahirkan. Pada rumah sakit besar, skrining merupakan prosedur standar yang biasanya dilakukan langsung oleh dokter anak.

Untuk persalinan berisiko, seperti caesar atau ibu yang mengalami darah tinggi dan diabetes, dokter anak yang memiliki spesialisasi neonatal akan langsung melakukan pemeriksaan setelah bayi lahir. Jika memang ada kelainan, akan segera diketahui.

Tapi orangtua seringkali tak menydari pentingnya skrining ini. Terutama yang melahirkan di klinik atau bidan di mana pemeriksaan setelah lahir tak bisa dilakukan secara detail.

Dianjurkan, jika saat ini sedang mencari atau memilih RS atau klinik sebagai tempat persalinan, ayah dan ibu juga mempertanyakan fasilitas skrining.

Lalu apa saja pemeriksaaan standar dalam skrining bayi baru lahir?

- Skrining pendengaran bayi baru lahir
Di beberapa rumah sakit sudah termasuk skrining yang rutin. Skrining pendengaran bayi baru lahir hanya menunjukkan ada/tidaknya respons terhadap rangsangan dengan intensitas tertentu dan tidak mengukur beratnya gangguan pendengaran atau pun membedakan jenis tuli (tuli konduktif atau tuli saraf). Alat yang direkomendasikan untuk skrining pendengaran bayi adalah otoacoustic emissions (OAE) atau automated auditory brainstem response (AABR).

- Skrining penglihatan untuk bayi prematur
Retinopathy of prematurity (ROP) sering terjadi pada bayi prematur dan merupakan salah satu penyebab kebutaan bayi dan anak di dunia, termasuk di Indonesia. Dengan kemajuan teknologi di bidang perawatan bayi prematur, memungkinkan bayi prematur dengan berat lahir rendah dan usia kehamilan yang sangat muda dapat bertahan hidup.

Namun seiring dengan meningkatnya angka kehidupan bayi prematur tersebut, menyebabkan kejadian ROP juga meningkat. Untuk itu perlu dilakukan skrining pada bayi prematur untuk mendeteksi dini ROP, sehingga dapat dilakukan terapi yang sesuai untuk mencegah terjadinya kebutaan.

- Skrining Hipotiroid
Skrining ini bertujuan untuk mendeteksi dini adanya hipotiroid kongenital/bawaan. Hipotiroid kongenital yang tidak diobati sejak dini dapat mengakibatkan retardasi mental berat. Angka kejadian hipotiroid kongenital (bawaan) bervariasi antar negara, umumnya sebesar 1:3000 – 4000 kelahiran hidup.

Untuk penjelasannya lengkapnya bisa dibaca di sini.


Sumber: Ikatan Dokter Anak Indonesia

 

Topik Terkait :

#SusahnyaJadiArtis - Danang & Nilam Bahas Soal Haters

Jangan Lewatkan