Menilik Kebijakan Deposit RS untuk Fasilitas ICU Anak

Ada yang menerapkan sistem uang muka atau deposit, namun ada juga yang tidak. Tiap RS memiliki kebijakan yang berbeda.

Mutia
| 11 September 2017 12:08

Dream - Kasus kematian bayi Debora (4 bulan) terasa sangat miris. Bocah tersebut kabarnya meninggal dunia karena tak bisa dirawat di ruang pediatric intensive care unit (PICU) di RS Mitra Keluarga Kalideres.

Pasalnya, untuk bisa masuk ruang perawatan intensif seperti PICU, keluarga diminta untuk menaruh sejumlah deposit uang. Besaran deposit mencapai Rp 19.800.000. Keluarga Deborah
baru memiliki uang sebesar Rp 5.000.000, dan bayi tersebut tetap tak bisa masuk PICU.

Dari rilis yang dipublikasi dalam situs Mitra Keluarga (bisa dibaca di sini), pihak RS mengungkap sudah melakukan sederet prosedur untuk menyelamatkan Debora. Bayi tersebut juga akan dirujuk ke RS yang memiliki fasilitas PICU dan bekerja sama dengan BPJS, tapi nyawanya tak tertolong.

Kebijakan terkait deposit ini memang banyak diterapkan di rumah sakit-rumah sakit besar. Fasilitas intensive care unit, baik untuk bayi (neonatal intensive care unit/ NICU) atau untuk
anak (pediatric intensive care unit/ PICU) bisa dibilang merupakan fasilitas langka.

Dibutuhkan banyak anak-anak yang memiliki masalah kesehatan tapi hanya beberapa rumah sakit yang memilikinya. Biasanya memang jadi fasilitas standar di rumah sakit ibu dan anak
(RSIA), tetapi seringkali penuh dan orangtua harus mencari RS lain yang memiliki fasilitas tersebut.

Fasilitas ruangan NICU dan PICU
Ruangan NICU dan PICU terdiri dari fasilitas kesehatan dan alat yang sangat lengkap seperti inkubator, alat bantu napas, monitor, pemberian makanan dan masih banyak lagi. Tak hanya
itu, dokter, perawat, fisioterapis yang bekerja di NICU/ PICU juga merupakan tim profesional terlatih.

Keterampilan yang mereka miliki sangat khusus dan memang fokus menangani bayi baru lahir dan anak-anak. Untuk dokter misalnya, merupakan dokter spesialis anak sub spesialis atau
yang memiliki keahlian tertentu seperti perinatologi, alergi/ imunologi atau pediatrik/ infeksi.

Begitu juga para perawat dan fisioterapis, mereka yang bekerja di NICU atau PICU harus memiliki sertifikat pelatihan khusus. Para tim bekerja secara shift selama 24 jam, karena pasien
yang berada di ruang NICU/PICU harus mendapat pengawasan non stop.

Biaya NICU dan PICU
Bayi dan anak-anak yang harus dirawat di ruangan ini biasanya yang memiliki kelainan bawaan saat lahir. Untuk bayi misalnya, karena lahir prematur atau kadar bilirubinnya tinggi. Untuk
anak-anak yang dirawat di PICU biasanya yang memiliki masalah pada fungsi organ.

Dengan segala fasilitas dan tim yang bekerja 24 jam, tak heran kalau biaya perawatan baik di NICU maupun PICU sangat mahal. Tergantung dari kondisi anak, biasanya per malam sekitar
Rp 2 hingga Rp 3 juta.

Biaya tersebut kadang belum termasuk obat-obatan dan fasilitas lain, seperti makanan cair yang harus dimasukkan lewat selang atau susu formula khusus untuk bayi prematur. Dengan
biaya yang tinggi, beberapa RS akhirnya menerapkan sistem deposit.

Besaran deposit
Uang deposit ini besarannya tergantung dari kebijakan rumah sakit. Biasanya antara Rp 5 juta hingga Rp 20 juta. Seperti yang pernah terjadi pada Aninda.

Putrinya yang masih berusia 4 hari mengalami demam tinggi dan harus dirawat ruang NICU sebuah RS ibu dan anak di kawasan Depok, Jawa Barat.

" Waktu itu deposit sekitar Rp 20 juta, si kecil dirawat selama 5 hari. Aku juga kaget ternyata harus deposit, demi anak ya cari-cari dana. Jujur waktu itu gak siap dengan dana sebesar itu,
akhirnya pinjam orangtua. Tapi memang ada selisih, dan sisa uang dikembalikan. Tagihan juga dicetak setiap hari, jadi kita tahu uangnya dipakai untuk apa saja," ungkap Aninda.

Lain lagi pengalaman Lita, yang anaknya masuk PICU karena mengalami infeksi berat. Saat itu ia memeriksakan anaknya di sebuah RS di bilangan Bintaro, Tangerang Selatan. Saat masuk
PICU, Lita tak dimintai dana deposit.

Pembayaran baru dilakukan setelah anaknya diperbolehkan pulang oleh dokter. " Dokter bilang infeksi cukup berat, akhirnya dirawat di PICU, pengawasannya 24 jam, kita juga ga boleh
masuk sembarangan, harus pake baju khusus, steril. Gak bisa tuh ayah ibunya masuk, harus gantian, ini biar risiko kontaminasi virus dan bakteri bisa ditekan seminimal mungkin," ungkap
Lita.

Ia mengungkap kalau perawatan memang sangat intensif. Anaknya mendapat pengawasan penuh. Para suster dan fisioterapis yang ada di ruangan juga sangat rensponsif dan bekerja
profesional. Saat itu biaya yang harus ia bayar sekitar Rp 47 juta.

Sebenarnya, tak semua RS menerapkan sistem deposit untuk pasien yang akan masuk ICU. Meskipun banyak juga menerapkan kebijakan ini karena menganggap biaya untuk operasional ICU sangat tinggi dan tidak mau mengambil risiko terjadinya penunggakan.

 

#SusahnyaJadiArtis - Danang & Nilam Bahas Soal Haters

Jangan Lewatkan