Menguak Mitos Seputar Vaksin yang Menyesatkan

Jangan percaya kalau ada yang bilang vaksin MR bisa memicu autisme

Mutia Nugraheni
| 16 Agustus 2017 08:20

Dream - Saat ini Kementerian Kesehatan Republik Indonesia sedang menggelar kampanye vaksin Campak dan Rubella (MR) yang dimulai pada 1 Agustus lalu dan akan berlangsung hingga akhir September mendatang.

Anak-anak usia 9 bulan hingga 15 tahun akan diberikan suntikan vaksin MR secara gratis. Pemberian vaksin akan dilakukan di sekolah, puskesmas dan posyandu terdekat. Pemberian vaksin ini dilakukan karena angka kejadian penyakit Campak dan Rubella masih tinggi dan masuk 10 besar di dunia. Angkanya mencapai 4.075 pada 2015.

Namun pemberian vaksin ini MR ini dalam pelaksanaannya banyak menemui kendala. Salah satunya banyak orangtua yang termakan isu kalau vaksin MR menyebabkan autisme, membuat anak malah mengalami masalah, tidak efektif dan masih banyak lagi.

Untuk itu ketahui mitos-mitos seputar vaksin yang wajib para orangtua ketahui, seperti penjelasan dari Ikatan Dokter Anak Indonesia dan Kementerian Kesehatan berikut.

Mitos : Vaksin menyebabkan autisme
Fakta: Ini salah satu yang ditakutkan orangtua. Tapi hal itu hanya mitos belaka. Isu tersebut dilatar belakangi sebuah studi pada 1998. Dalam studi tersebut ada pernyataan yang menyatakan terdapat hubungan antara vaksin MMR dengan autisme. Namun pada akhirnya studi ini salah dan ditarik oleh jurnal yang menerbitkannya. Sayangnya, publikasi ini terlanjur membuat publik panik dan membuat cakupan imunisasi menurun yang diikuti dengan kejadian luar biasa dari campak, rubela, dan gondongan. Ditekankan bahwa tidak ada bukti yang menunjukkan hubungan antara vaksin MMR dengan autisme.

Mitos: Vaksin berdampak kerugian jangka panjang yang belum diketahui
Fakta: Vaksin itu aman. Kebanyakan reaksi vaksin bersifat minor dan sementara, seperti nyeri pada tempat penyuntikan atau lengan atau demam ringan. Masalah kesehatan serius atau berat sangat jarang terjadi dan diinvestigasi dan dimonitor secara ketat. Orang-orang jauh lebih berisiko untuk sakit parah akibat terinfeksi penyakit-penyakit yang sebenarnya dapat dicegah dengan vaksin daripada karena divaksin. Sebagai contoh, penyakit polio dapat menyebabkan kelumpuhan, campak dapat menyebabkan radang otak dan kebutaan, dan beberapa penyakit lainnya bahkan dapat menyebabkan kematian. Sementara sakit berat atau kematian akibat vaksin hanya terjadi 1 dari sekian banyak, lebih banyak keuntungan yang didapat karena divaksinasi daripada kerugiannya, dan banyak kesakitan dan kematian akan terjadi tanpa vaksin.


Mitos: Penyakit di masa kanak-kanak yang dapat dicegah dengan imunisasi hanya salah satu musibah yang wajar terjadi dalam hidup
Fakta : Penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi tidak harus menjadi “ takdir”. Penyakit seperti campak, gondongan, dan rubela merupakan penyakit serius dan dapat menyebabkan komplikasi yang serius baik pada dewasa maupun anak-anak, termasuk pneumonia, radang otak, kebutaan, diare, infeksi telinga, sindrom rubela kongenital (jika seorang wanita hamil terinfeksi rubela pada trimester pertama), dan kematian.


Lihat fakta lainnya seputar vaksin di sini.

Sumber: Kementerian Kesehatan/ IDAI

 

Millen Cyrus Tersandung Narkoba (Lagi)

Jangan Lewatkan