Menguak Hukum Program Bayi Tabung dalam Islam

Menjalani program bayi tabung merupakan ikhtiar suami dan istri untuk mendapat keturunan.

Mutia Nugraheni
| 1 Juli 2018 10:34

Dream - Menikah selama belasan hingga puluhan tahun namun belum kunjung dikaruniai keturunan. Hal ini tentu menjadi ganjalan besar dalam hubungan suami istri. Isu kesuburan kerap kali dihindari untuk dibahas.

Namun kini banyak bermunculan rumah sakit dan klinik yang menawarkan program bayi tabung bagi pasangan yang ingin segera mendapat keturunan. Biayanya cukup mahal, usaha yang dilakukan pun sangat besar, menguras fisik dan emosi. Tak ada jaminan juga kehamilan pasti terjadi.

Fakta demikian tak lantas menyurutkan banyak pasangan yang tetap berikhtiar. Melakukan program bayi tabung agar bisa menimang buah hati. Lalu bagaimana Islam memandang hal ini?

Menjalani program bayi tabung merupakan ikhtiar suami dan istri untuk mendapat keturunan. Dikutip dari DalamIslam.com, apabila inseminasi buatan atau bayi tabung dilakukan saat masih berada dalam ikatan suami istri, maka metode tersebut diperbolehkan oleh kebanyakan ulama kontemporer sekarang ini.

Namun, ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi, yakni:
- Dilaksanakan atas ridho suami dan istri.
- Inseminasi akan dilaksanakan saat masih berada dalam status suami istri.
- Dilaksanakan sebab keadaan yang darurat supaya bisa hamil.
- Perkiraan dari dokter yang kemungkinan besar akan memberikan hasil dengan cara memakai metode tersebut.
- Aurat wanita hanya diperkenankan dibuka saat keadaan darurat dan tidak lebih dari keadaan darurat.
- Yang melakukan metode adalah dokter wanita atau muslimah apabila memungkinkan. Namun jika tidak, maka dilakukan oleh dokter wanita non muslim. Cara lain adalah dilakukan oleh dokter pria muslim yang sudah bisa dipercaya dan jika tidak ada pilihan lain maka dilakukan oleh dokter non muslim pria.

Program bayi tabung bisa menjadi haram jika ada keterlibatan pihak ketiga dalam prosesnya. Seperti melibatkan donor sperma, sel telur atau donor embrio selain pasangan suami istri dalam prosesnya.

Nadwah Al Injab fi Dhouil Islam yang merupakan sebuah musyawarah para ulama di Kuwait 11 sya’ban 1403 H (23 Maret tahun 1983) sudah berdiskusi mengenai bayi tabung ini dan menghasilkan keputusan. Keputusannya yaitu bayi tabung diperbolehkan secara syar’i apabila dilakukan antara suami dan istri, masih mempunyai ikatan suami istri dan bisa dipastikan jika tidak terdapat campur tangan nasab lainnya.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) sendiri sudah mengeluarkan fatwa soal Bayi Tabung. Dalam fatwa dinyatakan jika bayi tabung berasal dari sperma dan sel telur pasangan suami istri sah menurut hukum, maka mubah atau diperbolehkan.

Hal ini bisa terjadi karena masuk ke dalam ikhtiar yang didasari kaidah agama. Akan tetapi, para ulama melarang penggunaan teknologi bayi tabung dari pasangan suami istri yang menggunakan rahim perempuan lain sebagai sarana dan ini adalah haram hukumnya.

Selengkapnya baca di sini.

Cek Fakta Dengan Dokter - Promil dan Laparoscopy di Masa Pandemi

Jangan Lewatkan