Kota di Indonesia Ini Paling Ketinggalan Info Soal Gizi

Peranan guru dan keterlibatan orang tua dalam peningkatan perilaku gizi yang positif sangat dibutuhkan.

Gladys Velonia
| 1 Februari 2018 18:51

Dream - Pemenuhan gizi yang optimal sangat dibutuhkan tubuh agar selalu dalam kondisi yang baik, mulai sejak di kandungan hingga usia senja. Dengan gizi yang berkualitas akan membuat pertumbuhan jadi maksimal, bukan hanya fisik tapi juga psikologis.

Sayangnya, angka pengetahuan mengenai gizi yang baik dan benar masih rendah di Indonesia. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Frisian Flag, Kota Pekanbaru menduduki peringkat pertama sebagai kota yang paling ketinggalan informasi seputar gizi.

" Pengetahuan seputar gizi paling rendah itu di Pekanbaru. Sedangkan yang tertinggi itu di Salatiga. Penyebabnya adalah kurangnya informasi secara merata," ujar Sandra Fikawati, dosen gizi ibu dan anak Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, di Pasar Baru, Jakarta Pusat, Kamis 1 Februari 2018.

Angka pengetahuan gizi rendah yang rendah, menurut Ketua Pusat Kajian Gizi dan Kesehatan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia Ahmad Syafiq, dikarenakan
pengetahuan gizi tidak dimasukkan ke kurikulum.

 Frisian Flag

Survei yang dilakukan Frisian Flag kepada peserta program Gerakan Nusantara 2017 menunjukkan pentingnya peranan guru dan keterlibatan orang tua dalam peningkatan perilaku gizi yang positif dan aktivitas gerak di luar ruang pada anak-anak.

" Karena anak-anak masih dalam masa pertumbuhan, butuh gizi, tapi tidak tahu, sehingga guru dan orang tua memiliki peran yang sama pentingnya," tegas Ahmad.

Sebagai penyempurnaan penyelenggaraan program Gerakan Nusantara di tahun-tahun sebelumnya, 2017 Frisian Flag Indonesia menambahkan kegiatan Training of Trainer (TOT) untuk para guru.

Sebanyak 2,134 guru yang terbagi dalam tiga kelompok yakni kepala sekolah, guru keIas IV dan guru kelas V telah mendapatkan pelatihan daIam program TOT yang berlangsung di 740 sekolah di delapan provinsi.

" Jika tahun-tahun sebelumnya edukasi hanya ditujukan kepada anak-anak di sekolah, tahun lalu kami mengubah pendekatan itu. Kami melibatkan guru-orang tua-siswa dan menciptakan
sebuah ekosistem belajar yang lebih kondusif dan berkelanjutan," lanjut Ahmad.

Setelah guru dan orangtua diberikan pelatihan TOT, mereka pun mengajarkannya ke anak. Sehingga hasil dari program Gerakan Nusantara 2017 berhasil menjangkau 520,815 siswa yang
mengikuti edukasi tentang pengetahuan, sikap dan perilaku gizi positif. Para siswa tersebut kini lebih paham mengenai gizi yang cukup dan seimbang.

" Sikap dan perilaku guru serta siswa yang mengikuti program pelatihan dan edukasi gizi ini meningkat 11,1% dengan pesan tentang Pedoman Gizi Seimbang menunjukkan peningkatan
pemahaman terbesar. Perilaku siswa dan guru dalam mengonsumsi makanan yang bergizi meningkat secara signifikan sebesar 9,7%," kata Ahmad.

Merawat Warisan [TEASER]

Jangan Lewatkan