Keguguran Ternyata Tak Selalu Ditandai dengan Pendarahan

Keguguran cenderung terjadi di trimester awal kehamilan.

Mutia Nugraheni
| 2 Desember 2020 08:03

Dulu Hanya Fokus Pada Sel Telur

Adanya masalah kromosom selama pembuahan dapat membuat embrio mendapat jumlah kromosom yang salah (terlalu banyak atau terlalu sedikit). Hal ini pada akhirnya dapat menyebabkan keguguran. Namun, tidak semua bayi dengan jumlah kromosom yang salah mengalami keguguran. Misalnya, bayi dengan trisomi 21 mengalami sindrom Down.

"Dulu, para peneliti berfokus pada sel telur sebagai sumber utama masalah kromosom. Salah satu alasannya adalah (biasanya) hanya satu sel telur yang diovulasi setiap siklus menstruasi. Dengan sperma, seleksi alam terjadi sebelum pembuahan yang secara teoritis mengarah pada "yang terkuat" untuk mencapai sel telur," ujar Danielsson.

Selain itu, studi genetik pada jaringan dari keguguran telah melacak kesalahan pada tahap pertama meiosis ibu (perkembangan awal sel telur) sebagai sumber kelainan yang paling mungkin menyebabkan keguguran.

Beberapa penelitian selama dekade terakhir menunjukkan bahwa ini mungkin tidak selalu terjadi. Beberapa kasus keguguran berulang tampaknya melibatkan ayah yang memiliki insiden kromosom abnormal yang tinggi dalam spermanya.

 

Selanjutnya :

Fragmentasi DNA Sperma

Topik Terkait :

Jokowi Resmi Lantik Pengisi Dua Kementerian Baru dan Kepala BRIN

Jangan Lewatkan