Jangan Terjebak Mitos Soal Vaksin, Ketahui Faktanya

Berbagai isu miring tentang vaksin menjadi alasan utama bagi orang untuk tidak melakukan vaksinasi.

Mutia
| 10 Februari 2018 12:33

Dream - Penyakit menular masih menjadi masalah besar di dunia kesehatan. Pasalnya, penyakit yang seharusnya dapat dihindari itu justru merebak akibat penolakan vaksin.

Berbagai isu miring tentang vaksin menjadi alasan utama bagi orang untuk tidak melakukan vaksinasi. Padahal, manfaat yang diberikan oleh vaksin justru lebih besar dibanding dengan
kerugiannya.

Dokter Spesialis Anak, Arifianto menyebutkan beberapa isu vaksin yang terbukti sebagai hoax lewat acara Media Workshop Bio Farma di Cirebon, Jawa Barat beberapa waktu lalu.
Sebelum menolak vaksin, ketahui faktanya berikut. Jangan terjebak hoax.

Mitos: Vaksin mengandung babi
Fakta: Manusia masih bergantung pada beberapa hewan untuk memproduksi obat-obatan dan vaksin, salah satunya adalah embrio ayam. Kalaupun bersinggungan dengan bahan yang terkait
dengan babi, zat tersebut sudah hancur akibat proses yang kompleks sehingga partikel babi tidak lagi ditemukan disana.

Selain itu, MUI sudah mengeluarkan fatwa Nomor 4 Tahun 2016 tentang tentang Pelaksanaan Sertifikasi Halal Produk Vaksin dan Obat-obatan. Disebutkan bahwa ajaran Islam sangat
mendorong umatnya untuk senantiasa menjaga kesehatan, yang dalam praktiknya dapat dilakukan melalui upaya preventif agar tidak terkena penyakit.

Mitos: Vaksin berbahaya karena mengandung aluminium
Fakta: Memang benar bahwa ada kandungan aluminium pada vaksin. Namun jumlahnya hanya berkisar 4mg dan tidak berbahaya. Bahkan, ASI memiliki kandungan aluminium yang lebih banyak, yakni 10mg. Ditmabah lagi dengan 40mg dari kandungan susu formula.

Aluminium digunakan sebagai bahan untuk meningkatkan respon imun vaksin dengan jumlah bahan aktif yang lebih sedikit. Sekadar informasi, aluminium memang terdapat di dalam air,
udara dan makanan sehari-hari.

Mitos: Vaksin berbahaya karena mengandung formalin
Fakta: Formalin digunakan untuk mematikan virus atau toksin pada bakteri. Seperti misalnya vaksin polio, toksin difteri dan tetanus. Tak perlu khawatir karena formalin yang digunakan telah dimurnikan terlebih dahulu.

Formalin juga merupakan produk sampingan sintesis DNA dan protein, serta dapat ditemukan dalam darah manusia dengan jumlah 10 kali lebih banyak dari yang terkandung dalam botol
vaksin.

Mitors: Setelah vaksin justru bikin sakit
Fakta: Sakit yang dimaksud biasanya bukan diakibatkan oleh vaksin, melainkan pasien sedang mengalami fase inkubasi dari penyakit yang sedang diderita. Misalnya demam berhari-hari setelah vaksin, ternyata terbukti bahwa pasien sedang mengalami demam berdarah. Perlu diketahui bahwa saat ini belum ada kasus laporan Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) yang diakibatkan oleh kualitas vaksin yang buruk.

Laporan Annisa Mutiara

Hanung Bramantyo Bicara Tentang 'The Gift' #MovieTalks

Jangan Lewatkan