Ibu Dikategorikan Jalani Kehamilan Berisiko Tinggi Jika...

Tak perlu panik, karena dokter biasanya akan memberikan pemeriksaan tambahan dan konsultasi lebih sering.

Mutia Nugraheni
| 16 Oktober 2017 12:05

Dream - Bagi para ayah dan ibu yang sangat mendamba keturunan, kehamilan tentu akan dijaga semaksimal mungkin. Saat kehamilan sudah terjadi, pemeriksaan medis penting dilakukan secara teratur, terutama jika ibu ternyata termasuk yang menjalani kehamilan berisiko tinggi.

Apa maksud dari kehamilan berisiko tinggi? Suatu kondisi di mana ibu dan bayi memiliki masalah kesehatan selama kehamilan, kelahiran, atau setelah melahirkan. Sering dianggap masalah kecil namun dalam beberapa kasus, kondisi ini dapat memicu kondisi fatal pada ibu dan bayi.

Untuk itu penting menceritakan riwayat penyakit, melakukan pemeriksaan secara teratur dan berkonsultasi agar kehamilan berjalan dengan baik. Dokter kandungan akan memberi tahu
Anda jika memang kehamilan termasuk yang berisiko tinggi.

Tak perlu panik, karena dokter biasanya akan memberikan pemeriksaan tambahan dan konsultasi lebih sering. Semuanya bisa teratasi jika Anda dan dokter bisa berkomunikasi baik.

Lalu kondisi apa saja yang termasuk kehamilan berisiko tinggi?

Kelainan darah: Jika Anda termasuk orang yang memiliki kelainan darah seperti thalassemia atau kondisi darah yang abnormal, maka kondisi kehamilan akan membuat muncul keluhan baru yang tak pernah dikira sebelumnya. Pemeriksaan teratur dan memberitahu riwayat penyakit adalah hal yang sangat penting untuk keselematan ibu dan bayi.

Gangguan ginjal: Bagi ibu yang memiliki masalah ginjal maka bisa meningkatkan risiko keguguran, darah tinggi yang memicu preeklampsia dan kelahiran prematur. Kehamilan memang membuat kerja ginjal jadi lebih berat.

Darah tinggi: Kondisi tekanan darah yang tinggi pada ibu dapat memicu pertumbuhan janin jadi lebih lambat. Komplikasi lain yang mungkin muncul adalah preeklampsia. Yaitu respons abnormal dari tubuh ibu terhadap jaringan plasenta yang terus tumbuh, bisa memicu kejang pada ibu hingga kematian. Darah tinggi juga bisa menimbulkan placental abruption, kondisi di mana plasenta terlepas sebagian atau seluruhnya pada janin.

Lupus: Penyakit autoimun seperti lupus dan penyakit lainnya dapat meningkatkan risiko terjadinya bayi prematur, preeklampsia dan janin dengan berat lahir rendah. Ibu dengan penyakit autoimun memang perlu diberikan penanganan dan perawatan khusus baik selama kehamilan maupun persalinan.

Diabetes: Kondisi gula darah juga sangat menentukan kondisi kehamilan. Jika Anda memang punya riwayat diabetes, dokter akan memantau lebih intensif kondisi janin dan ibu. Pasalnya kondisi diabetes akan meningkatkan risiko darah tinggi, kelahiran prematur, bayi lahir dengan sangat besar (macrosomia), bayi mengalami permasalahan pernapasan dan level glukosa yang rendah. Ibu akan lebih rutin melaksanakan pemeriksaan darah saat hamil untuk memantau level gula darah.

Sumber: BabyCenter

 

 

BERANI BERUBAH: Dodol Perekat Korban PHK

Jangan Lewatkan