Peringatan Dokter Anak Soal Ganasnya Penyakit Difteri

"Difteri sebetulnya sudah bertahun-tahun tidak ditemukan lagi. Gara-gara tren antivaksin sekarang..."

Mutia Nugraheni
| 29 Oktober 2017 17:34

Dream - Salah satu penyakit yang sangat berbahaya bagi anak-anak adalah penyakit difteri. Bakteri yang memicu difteri ini bisa menghasilkan racun yang merusak jaringan pada tubuh manusia, terutama pada hidung dan tenggorokan.

Penyakit Difteri merupakan penyakit yang bisa dicegah, yaitu melalui pemberian vaksin DTP (difteri, tetanus, pertusis/ pentavalen) yang biasanya diberikan dalam satu suntikan. Namun
sayangnya masih banyak orangtua yang tak memberikan vaksin tersebut pada anak-anaknya.

Padahal vaksin ini merupakan vaksin yang masuk dalam program vaksin wajib. Sehingga, diberikan secara gratis pada anak-anak melalui puskesmas. Seorang dokter anak di RS PMI Bogor, kembali memperingatkan pentingnya pemberian vaksin ini pada bayi di bawah satu tahun.

Hal ini karena cukup kasus difteri yang cukup signifikan kembali ia temui di Bogor. Dalam status Facebooknya, dr. Fransiska Sri Susanti pun menceritakan seputar kasus penyakit Difteri di Bogor.

" Ada kasus difteri di Bogor, dirujuk ke Jakarta. Info dari dinkes kota Bogor sudah ada 9 kasus di kabupaten Bogor. Serum anti difteri (ADS) cuma ada 6 padahal pasien perlu 8. Kalau 9 kasus
butuh berapa? Mau dapat dari mana? Karena ADS sudah sulit didapat saat ini," tulis dr. Fransiska.

Ia pun mengungkapkan kalau penyakit difteri sangat berbahaya. Efeknya pada anak bisa jangka panjang, dan menimbulkan komplikasi.

" Untuk orang-orang yang dengan enaknya bilang 'ah semua penyakit ada obatnya' tolong dipikir ulang. Difteri sangat berbahaya, selaput yang terbentuk dan pembengkakan hebat di saluran napas membuat penderita tidak bisa bernapas sehingga harus dibuat lubang di tenggorokan agar bisa bernapas. Itu belum cukup. Bakteri difteri menghasilkan toxin yang bisa meracuni otot jantung dan menyebabkan kelemahan otot jantung," ungkap dr. Fransiska.

Menurutnya angka kematian akibat penyakit Difteri ini sangat tinggi. Lalu jika sembuh, si penderita memiliki risiko mengalami gagal jatung karena otot jantungnya melemah. Bakteri Difteri sendiri termasuk sangat ganas dan mudah menular.

Sang dokter kembali mengingatkan para orangtua untuk memvaksin anak-anaknya, DPT. Yaitu sebanyak 3 kali di usia bayi (< 1 tahun), 1 kali di usia 18 bulan, 1 kali booster di usia 5-6 tahun.

" Untuk kami para tenaga kesehatan kejadian seperti ini sangat menyesakkan karena Difteri sebetulnya sudah bertahun-tahun tidak ditemukan lagi. Gara-gara tren antivaksin sekarang banyak penyakit yang sudah lama tidak muncul mulai bermunculan lagi," tulisnya.

Muhasabah bersama Ustaz Erick Yusuf

Jangan Lewatkan