Bencana Alam Tingkatkan Kasus Kelahiran Bayi Prematur

Level kortisol yang tinggi pada cairan amnion atau ketuban dapat memperpendek usia kehamilan.

Mutia Nugraheni
| 14 Agustus 2018 10:10

Dream - Gempa susulan masih terus mengguncang Lombok, Nusa Tenggara Barat. Bahkan hingga dirasakan masyarakat Bali. Kondisi ini tentu saja memicu stres dan masalah psikologis bagi para penduduknya terutama ibu hamil.

Beberapa studi menyebutkan jumlah ibu yang melahirkan buah hatinya secara prematur meningkat ketika terjadi gempa dan bencana alam lainnya. Gempa tentu saja akan menimbulkan stres, kekhawatiran, dan kecemasan pada ibu hamil. Keadaan ini dapat memicu tingginya hormon kortisol pada ibu, yang berdampak pada tingginya hormon kortisol di cairan amniotik (ketuban).

Level kortisol yang tinggi pada cairan amnion dapat memperpendek usia kehamilan. Sebuah penelitian di Amerika Serikat menemukan bahwa berbagai bencana alam, seperti gempa bumi, badai salju, dan Hurricane Sandy tahun 2012 meningkatkan level stres pada ibu hamil.

Kondisi ini dapat menyebabkan peningkatan katekolamin yang dilepaskan oleh ibu hamil, sehingga dapat menyebabkan kelahiran prematur. Uniknya, efek ini tidak hanya diamati bagi ibu hamil yang mengalami gempa bumi pada trimester akhir kehamilannya, tapi juga mereka yang terkena bencana alam saat trimester pertama kehamilan.

Saat terjadi Tropical Cyclone Yasi 2011 di Queensland, Australia, ditemukan peningkatan kelahiran prematur sebanyak 20 persen pada ibu hamil. Saat bencana alam tersebut terjadi, mereka tengah menjalani trimester pertama kehamilan.

Studi lainnya dilakukan pada 1994 saat gempa di Northridge, Amerika Serikat, dan menemukan hasil serupa. Ibu yang tengah hamil pada trimester pertama kehamilan akhirnya melahirkan kurang lebih satu minggu lebih awal, dibandingkan dengan ibu hamil yang tidak mengalami gempa bumi tersebut.

 

Selanjutnya :

Ibu Hamil Alami Gangguan Emosional

Ria Irawan Larang Rano Karno Jenguk Dirinya, Kenapa?

Jangan Lewatkan